Pemerintahan Louis XIV bersifat monarki absolut, di mana raja dianggap selalu benar. Untuk mempertahankan keabsolutannya itu, ia mendirikan penjara Bastille. Penjara ini diperuntukkan bagi siapa saja yang berani menentang keinginan raja. Penahanan juga dilakukan terhadap orang-orang yang tidak disenangi raja. Louis XIV menunjukkan bahwa seolah-olah kekuasaan raja berasal dari Tuhan (Les droit divin) sehingga tidak dapat diganggu gugat oleh UUD. Ia terkenal dengan semboyannya Le etate c’es moi (Negara adalah saya).
Perancis mengalami kemerosotan ekonomi dan keuangan pada masa pemerintahan Louis XVI. Hal ini disebabkan karena sikap raja dan keluarganya, terutama permaisuri Marie Antoinette, selalu menghambur-hamburkan uang negara untuk berfoya-foya. Hal ini berbanding lurus dengan perilaku sang Raja sendiri juga para bangsawan yang menghambur-hamburkan kas Negara untuk bersenang-senang dengan para wanita cantik yang menyebabkan kas Negara kosong (madame defisit). Juga disebabkan oleh kekalahan Perancis dalam ‘Perang Tujuh Tahun’ terhadap Inggris (1756 – 1763).
Liberte, Egalite, Fraternite adalah semboyan Revolusi Perancis yang artinya Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan. Semboyan ini menggambarkan semangat nasionalisme rakyat Perancis untuk bersatu. Dalam hal ini kaum Borjuis berperan besar dalam bagkitnya pemikiran atas supremasi hukum yang tidak hanya tersebar di seluruh Perancis, namun juga seluruh dunia. Revolusi Perancis memiliki karakteristik semangat yang bercita-cita pada kebebasan, kesetaraan, dan keadilan bagi rakyat dengan semboyannya ‘Liberte, Egalite, Fraternite’ yang artinya Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan.
No comments:
Post a Comment